Kemenpar-DMI Tanda Tangani MoU Pengembangan Wisata Religi Berbasis Masjid

0
986
Kemenpar-DMI Tanda Tangani MoU Pengembangan Wisata Religi Berbasis Masjid
Liputan1.com-Kemenpar-DMI Tanda Tangani MoU Pengembangan Wisata Religi Berbasis Masjid
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) “The Halal Wonders” di Gedung Sapta Pesona Kemenpar, Jakarta, Kamis (15/6). “The Halal Wonders” merupakan program pengembangan wisata religi berbasis masjid yang akan mengintegrasikan pariwisata dengan masjid terdekat di suatu daerah dengan memanfaatkan aplikasi berbasis internet.
Acara penandatangan “The Halal Wonders” Kemenpar-DMI yang disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Arif Yahya juga dihadiri perwakilan mitra kerja dari Masyarakat Ekonomi Syariah Indonesia, Asosiasi Travel Halal Indonesia, Perkumpulan Wisata Halal Indonesia, Perkumpulan Produk Halal Indonesia, dan Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umroh Indonesia.
“Sepertiga orang di dunia berwisata karena keyakinannya, kita sebagai negara mayoritas muslim jadi kita punya potensial yang besar untuk wisata halal. “Pesan saya agar arti halal diperluas dan tidak hanya terbatas pada minuman alkohol dan makanan halal, tetapi juga mencakup hal-hal terkait kebersihan dan keramahan,” ujar Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya.
Menpar Arief Yahya menggarisbawahi bahwa potensi besar tersebut belum digarap secara maksimal di Indonesia, salah satunya tampak dari fakta tidak ada satu pun masjid di Indonesia masuk dalam daftar “10 Masjid Terindah di Dunia” dari Organisasi Pariwisata Dunia (WTO). Padahal, wisata religi memiliki dua nilai yang harus dikembangkan, yakni nilai spiritual dan nilai ekonomi.
“Kita dari dulu punya keramaian di masjid-masjid, tapi konyolnya kita tidak bisa memanfaatkan economic values yang ada di masjid-masjid. Dan semuanya saat ini dikelola berbasis teknologi informasi, semua orang mencari sesuatu secara praktis dan accessible,” kata Menpar Arief Yahya.
Menpar Arief Yahya menambahkan, bila masjid dimakmurkan, maka masjid akan memakmurkan.
Membantu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman). “Juga bisa memberdayakan perekonomian masyarakat sekitar melalui usaha UKM kuliner, souvenir dan sharing services,” jelas Menpar Arief Yahya.
Masjid dilihat dari perspektif pariwisata, lanjut Menpar Arief Yahya, dapat menjadi ikon dan objek menarik bagi wisatawan dan masyarakat, selain pemanfaatan Masjid sebagai sarana ibadah dan pendidikan.
“Manajemen Masjid Modern (atraksi-fasilitas-ikon) tidak hanya menjadikan Masjid selain sebagai sarana tradisional, namun dapat memanfaatkan Masjid sebagai pusat dinamika social, budaya dan ekonomi khususnya melalui sektor pariwisata. Hal ini sudah ada contohnya di negara lain,” papar mantan Dirut PT Telkom ini.
Secara umum, pemanfaatan Masjid di Indonesia dapat dibagi ke dalam 5 (lima) model yaitu
Sentra Ibadah,
Pendidikan,
Perekonomian, Ukhuwwah, Wisata Religi.
Banyak sekali contoh Masjid dalam perspektif Wisata Halal. Seperti
Masjid sebagai daya tarik atau sentra wisata halal karena  ersejarah sebagai (Masjid Kudus, Demak dan Sunan Ampel),
Masjid sebagai Obyek Unik, Khas dan Kreatif terpadu dengan obyek wisata lainnya (Masjid Jogokaryan dan Kubah Emas),
dan Masjid sebagai Pendukung (Fasilitas) di dekat area wisata halal atau terintegrasi dengan wisata umum sekitarnya.
“MoU ini untuk mensinergikan serta mensingkronisasikan antara stakeholder masjid dan pariwisata dalam mengembangkan wisata religi berbasis masjid. Selain itu untuk membangun kesamaan pemahaman, arah, tujuan dan target bersama dalam bersinergi mengembangkan peran masjid dalam pembangunan wisata religi yang berkesinambungan bagi kepentingan perekonomian nasional,” papar Menpar Arief Yahya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here