Universitas Budi Luhur Gelar Muslim Conference 2017

0
558

Liputan1.com-Universitas Budi Luhur Gelar Muslim Conference 2017

Budi Luhur Muslim Conference (BLMC) 2017 merupakan agenda besar tahunan yang diselenggarakan oleh LDK Al-Azzam Universitas Budi Luhur, tahun ini BLMC mengangkat tema “Peran Pemuda Islam dalam Menjaga Kebhinekaan”.

“Awal mula mengapa tema ini diangkat adalah karena selama ini isu SARA sudah banyak beredar dan menjadi alasan utama dimulainya suatu perpecahan, padahal hakikatnya SARA adalah kemajemukan yang menjadi kekuatan utama bangsa ini,” kata M  Khidrotul Hidayat, Ketua Panitia BLMC 2017

Khidrotul menambahkan bahwa Tujuan dan harapan dari diselenggarakannya acara ini adalah muncul kesatuan pemikiran dari berbagai sudut pandang yang berbeda, baik dari sisi pemuda yang diwakili oleh pelajar SMA dan mahasiswa umum, dari sisi aktivis sosial yang diwakili oleh UKM dan ORMAWA, dan juga dari sisi aktivis keagamaan yang diwakili oleh FSLDK JADEBEK

Acara Budi Luhur Muslim Conference yang berlangsung pada tanggal 22 Mei 2017, pada akhirnya berhasil mengundang Alwi Alatas, M. H. Sc (Sejarawan Muslim), Akmal Sjafril M.Pd.I(Aktivis Indonesia Tanpa JIL), dan Dr. H. Arya Sandhiyudha, S.Sos. M.Sc (Direktur Eksekutif MaCDIS). Acara ini dihadiri oleh 89 orang peserta umum yang terdiri dari mahasiswa Universitas Budi Luhur beserta mahasiswa eksternal kampus, dan  undangan yang berasal dari UKM/ORMAWA Universitas Budi Luhur, SMA/SMK, dan FSLDK JADEBEK.

Berlangsungnya acara ini, menghasilkan kesepakatan sebagai berikut:

1. Negara Indonesia adalah negara yang majemuk dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, oleh karena itu sudah semestinya Islam menjadi pemersatu bangsa sebagaimana yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh terdahulu yang berusaha membangun kemerdekaan negara ini.

2. Islam adalah agama yang cinta damai, berbagai aksi damai yang dilakukan sebelumnya didasarkan pada kecintaan terhadap Allah dan kecintaan terhadap negara ini. Aksi Bela Islam dan Al-Qur’an juga bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI, jangan sampai dengan adanya aksi ini malah memecah belah persatuan dan kesatuan antar suku, agama, ras dan adat yang didasarkan pada prinsip saling toleransi satu sama lain, akan tetapi yang dimaksudkan disini adalah toleransi yang memiliki batasan antar komponennya.

3. Sebagai seorang aktivis keagamaan, tidak boleh hanya berfokus pada ilmu agama saja, namun juga harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas terhadap cakrawala dunia. Melebarkan pemikiran dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan cara agar dakwah tetap bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Dan semboyan bhineka tunggal ika harus tetap dipertahankan untuk bisa mensyiarkan agama Islam dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here