Restoran ini Bangkrut Setelah Ahok Dipenjara

0
456

Liputan1.com-Restoran ini Bangkrut Setelah Ahok Dipenjara

Sebuah restoran milik orang Indonesia tutup setelah Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipenjara.

Kok bisa? Ikuti kisahnya.

Kisah ini menjadi viral dan bikin heboh di Twitter beberapa hari lalu.

Chirpstory situs pengunggah tweet-tweet viral posting kisah ini.

Kisah dibagikan oleh akun I’m Just Budi @CumaSiBudi pada Sabtu (20/05/2017) lalu.

Berisi rangkaian tweet yang mengisahkan kebangkrutan restoran milik warga Indonesia di Sydney setelah posting di sosial media ujaran kebencian.

Berikut rangkaian tweet selengkapnya.

“Coba Google Willis Canteen Sydney, dimiliki oleh seseorang bernama Teuku Indra Utama.”

“Dahulu, Willis Canteen terkenal krn Indonesian Cuisine yg enak & mantab.”

“Pelanggannya banyak, resto

“Harga sekali makan disini pun relatif terjangkau (utk ukuran Aussie), AUD30, seharga sebungkus Djarum Super (sekitar 350rb).”

“Asem banget, harga Djarum Super segitu, padahal di warung Mbok Nah Godean cuma 20rb.”

“Semua aman & damai, hingga Pilkada DKI dimulai, dan kampanye brutal menggunakan isu agama dimulai.”

 

“Frasa kafir bunuh anjing dkk jd hal biasa.”

“Awalnya, masih aman, hingga akhirnya Ahok kalah dan dipenjara.”

“Barulah kisah bermula: Status2 hatespeech Indra di fb pribadi menjadi viral.”

“Gara2 Indra nyinyir thd aksi lilin Sydney, netizen yg trganggu, langsung ngulik wall ybs.”

“Ditemui frasa Kafir Anjing Bunuh bertebaran disana.”

“The power of Sosmed: Habis indra jadi bulan2an.”

“Sialnya, alih2 minta maaf, Indra malah ngulangi perbuatan yg sama: buat status hatespeech.”

Indra lupa, dia hidup dan mencari nafkah di Sydney, tempat multi entis multi agama, dimana sikap rasis adl sebuah tingkah yg tak terampuni.”

“Netizen yg jengkel lalu memborbardir akun Willis Canteen di Tripadvisor, FB, dan Zoomato, intinya: Jangan makan disini, ownernya rasis.”

“Tidak pake lama, bisnis Willis Canteen langsung drop dan bangkrut, pelanggan tiba2 hilang, dan tatapan sinis menyertai dimanapun ia pergi.”

 

“Itu terjadi hanya dlm jangka waktu tidak ada 1 bulan.”

“Setelah bisnis-nya kena imbas, Indra baru buat status minta maaf.”

“Tapi nasi terlanjur jadi kerak telor, mending Indra jualan kerak telor.”

“Efek kampanye kebencian di Pilkada DKI merasuk & berefek jauh lebih parah dr yg pernah kita bayangkn.”

“Dan itu masih terjadi hingga detik ini.”

“Semua kena imbas, mulai pola fikir anak2 kencur SD-Mahasiswa, bahkan sampe menjalar ke institusi bisnis dan pemerintahan.”

“Siapa yg belum pernah dituding kafir/munafik di real life oleh mereka yg Anti Ahok? Bahkan yg netral pun kena.”

“Termasuk saya.”

“Lalu bagaimana cara merekonsiliasi ini? Apakah cukup: “Lupakan yuk, kita damai, pilkada dah selesai.”

Screening pegawai via sosmed benar2 dimulai.”

“Entah kapan ini berakhir, tapi smg segera berakhir, krn amat sangat destruktif.”

“Locus delicti = DKI. Korbannya se-Indonesia smpe Sydney sana.”

“Bisa jadi ini tipping pointnya, krn mulai banyak yg shock & menahan diri.”

“Ah, entahlah, semoga.”

“Willis Canteen?.”

“Saya mending maem di tiwul di pojok sono, halal juga kok.”

Kisah tersebut berawal dari sosok Ahok.

Seperti diketahui Ahok telah divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri jakarta Utara atas kasus penodaan agama.

Ahok divonis 2 tahun penjara dan langsung ditahan.

Beberapa waktu sebelumnya ia mengajukan banding tapi setelah musyawarah dengan keluarga, Ahok akhirnya menerima putusan tersebut dan menulis surat untuk pendukungnya.

Dalam surat tersebut Ahok mengaku belajar mengampuni dan mengharap para pendukungnya untuk tidak berdemo.

Ahok menjalani proses pengadilan panjang setelah videonya di Kepulauan Seribu menjadi viral.

Berita ini telah dimuat di tribunnews.com, dengan judul : Kisah Restoran Milik Orang Indonesia di Australia yang Bangkrut karena Pemiliknya Dinilai Rasis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here