Ingin Naik Haji, Pria Pekalongan Ini Nekad Jalan kaki ke Mekkah

0
783
Ingin Naik Haji, Pria Pekalongan Ini Nekad Jalan kaki ke Mekkah

Liputan1.com-Ingin Naik Haji, Pria Pekalongan Ini Nekad Jalan kaki ke Mekkah

Aksi ini membuat heboh media sosial. Kisahnya diceritakan dari satu akun ke akun lainnya. Kenalkan, dia adalah Mochammad Khamim Setiawan (29).

Khamim memulai perjalanannya dari Pekalongan pada 28 Agustus 2016 lalu.  Ia melewati berbegai negara dengan berjalan kaki.

Tentu saja, terkecuali menyeberangi lautan atau selat, yang tak mungkin dilakukannya tanpa naik ferry atau kapal.

Istirahat di masjid, menumpang di rumah orang yang bermurah hati, sampai bermalam di hutan sudah biasa ia lakukan.

Tak disangka, usahanya yang terkesan mustahil itu, tak lama lagi membuahkan hasil.

Pada 19 Mei 2017, ia telah tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat arab.

Khamim meyakini bahwa berjalan kaki adalah keutamaan dalam menunaikan ibadah haji.

Saat menyambangi  rumah Khamim atau akrab dipanggil Aim, hanya tinggal ayahnya, yakni Syaufani Solichin (74). Oleh karena Aim ke Mekkah, ayahnya tinggal sendiri. Ibu Aim sudah sepuluh tahun yang lalu meninggal.

Solichin menuturkan kenekatan Aim untuk sampai ke Mekkah hanya dengan berjalan kaki tanpa minta uang saku kepada siapapun.

“Orangnya keras kepala. Kalau sudah punya keinginan, pasti dilakukan dengan usahanya sendiri,” jelas Solichin.

Solichin menjelaskan keinginan anaknya untuk menunaikan haji ke Mekah dengan berjalan kaki sudah dilontarkan sejak dia masih kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unes). Anak keempat dari empat bersaudara ini selepas kuliah membulatkan tekadnya untuk pergi menunaikan haji dengan jalan kaki.

“Ketiga kakaknya (yang di Jakarta) sebelumnya meminta dia untuk kerja dulu. Tapi anaknya tidak mau. Dia justru mempersiapkan fisik maupun mentalnya selama tiga tahun,” jelasnya.

Persiapan Sarjana Ekonomi Pembangunan tersebut dilakukan selama tiga tahun. Setelah melakukan persiapan-persiapan khusus tersebut, Aim mulai mengurus surat-surat.

“Di Kemenag, saya dipanggil. Disuruh tanda tangan atas perjalanan anak saya itu, baru setelah saya tanda tangan, surat dari mereka bisa keluar,” jelasnya.

Sedianya Aim didampingi dua rekannya. Namun, sampai di Tegal kedua temannya menyerah tidak melanjutkan.

Mochamad Khaim sendiri berangkat dari rumah di Kecamatan Wonopringgo pada tanggal 28 Agustus 2016, berangkat jalan kaki sekitar pukul 22.00 WIB.

“Ya saya hanya bisa berdoa, lha wong dia hanya berbekal baju dan beberapa lembar uang. Saya tanya, apakah cukup uangnya sebagai bekal, dijawabnya pasti ada yang ngasih di jalan, bapak tidak usah khawatir,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here