La Nyalla Tegaskan Pemuda Pancasila Pegang Prinsip NKRI Harga Mati

0
682
La Nyalla Tegaskan Pemuda Pancasila Pegang Prinsip NKRI Harga Mati
Liputan1.com-La Nyalla Tegaskan Pemuda Pancasila Pegang Prinsip NKRI Harga Mati
Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, La Nyalla Mattalitti kembali menegaskan, organisasi Pemuda Pancasila selalu berpedoman pada ideologi negara, Pancasila
Para pengurus pusat sampai daerah selalu memegang prinsip NKRI sebagai harga mati. Pemuda Pancasila juga senantiasa melakukan upaya untuk memastikan Pancasila sebagai Ideologi bangsa ini, benar-benar menjadi pandangan hidup dan serta pedoman perjalanan Negara ini. Siapapun pemimpin negeri ini.
La Nyalla menyampaikan pandangan itu dalam Seminar Nasional “Dinamika Peran Pemuda dalam Menjaga Keutuhan NKRI” di Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Surabaya, Rabu 17 Mei hari ini.
“Sebagai kader Pemuda Pancasila, saya lebih tertarik berbicara tentang ideologi bangsa ini. Pancasila dengan ke 5 sila merupakan gagasan besar para pendiri negeri ini da harus diimplementasikan. Sehingga memastikan bingkai NKRI tetap akan terjaga,” tegas La Nyalla.
Dalam konteks dinamika Pemuda Indonesia, La  Nyalla melanjutkan, semua elemen masyarakat harus jujur dalam memotret situasi dan kondisi pemuda Indonesia hari ini. “Sehingga bisa mengukur atau menelaah bagaimana masa depan Republik Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan.”
Pendiri La Nyalla Academia ini memandang, doktrin peperangan modern adalah menguasai suatu bangsa dengan melemahkan generasi muda, termasuk fisik dan mental  serta semangat mereka.


“Doktrin itu ada karena meyakini betapa penting dan strategis posisi generasi muda. Karena merekalah penerus dan pemegang kendali atas bangsanya di kemudian hari. Merekalah yang akan menentukan wajah dan arah perjalanan bangsa dan negaranya.”

Lalu, bagaimana wajah generasi muda Indonesia di mana narkoba dan seks bebas serta degradasi moral menjadi masalah mendasar bangsa?

“Kita harus jujur bahwa hari ini ada masalah serius di dalam jati diri kita sebagai bangsa. Perubahan perilaku dan gaya hidup seolah telah merasuki alam bawah sadar kita. Sehingga terus terjadi dan menjadi lazim.  “

Di sisi lain, pemerintahan di Negara ini seolah tidak memiliki kedaulatan atas kekuasaannya. Karena lemah di hadapan kartel. Lemah di hadapan pemilik modal. Harus membagi kekuasaan dengan partai politik. Bupati atau walikota belum tentu selaras dengan Gubernur. Begitu pula Gubernur belum tentu seirama dengan Presiden. Ibarat sebuah lukisan; Eksekutif punya warna sendiri. Legislatif punya warna sendiri. Pusat punya warna sendiri, dan daerah punya warna sendiri. Hasilnya abstrak.

Begitu pula terhadap dunia internasional. Kita tandatangani banyak kesepakatan internasional. Meskipun melemahkan posisi dan saya saing

“Bagi saya; Inilah kado pahit Reformasi 98 yang tidak dikawal oleh pencetusnya. Tidak dikawal oleh aktivis mahasiswa yang mencetuskan.”

Reformasi 98 cuma menjadi semangat anti-thesa terhadap Orde Baru. Apapun di Orde Baru diganti. Dengan titik puncak, Amandemen UUD 1945. Dalam kurun waktu tahun 1999 hingga 2002, konstitusi kita mengalami 4 kali perubahan.

Bagaimana generasi muda menyikapi situasi ini?  Bagi saya sederhana. Harus tetap berpikir kritis dan berorganisasi. Pemuda adalah orang yang siap tidak berada di zona-nyaman. Tidak seperti generasi tua yang cenderung mempertahankan apa yang sudah dinikmati. Sehingga kehilangan nalar kritisnya. “

Pemuda wajib kritis. Termasuk dalam memotret masa depan NKRI. Pemuda harus berorganisasi untuk menemukan wadah sebagai tempat menguji dan menyampaikan pikiran-pikiran kritis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here