Iklim Demokrasi Indonesia Tantangan Kemajemukan Bangsa

0
494

LIPUTAN1.COM, Iklim demokrasi menjadi tantangan bagi kemajemukan bangsa Indonesia. Pandangan itu datang dari ahli Antropologi, Kartini Sjahrir.

Kartini mengambil contoh kasus Pilkada DKI 2017 penuh dengan konflik. Bahkan, isu-isu berbau SARA sengaja dimainkan kelompok-kelompok tertentu di tengah pesta demokrasi ini untuk mencapai tujuan.

Pilihan politik seperti kutu loncat alias bukan pilihan abadi. Dalam perkembangan demokrasi, muncul perilaku dan budaya yang tidak mencerminkan semboyan bangsa bangsa, Bhinneka Tunggal Ika.

Bahkan, Kartini menilai, perkembangan demokrasi baik di level daerah dan nasional justru menimbulkan konflik baru.“Otonomi daerah bahkan mendorong Pilkada rawan konflik horizontal,” kata Kartini dalam diskusi bertajuk Merajut Kebinekaan di Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, (16/5).

Kartini menilai, media sosial memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir inteloransi. Berangkat dari masalah itu, pendidikan mengenai wawasan kebangsaan di sekolah-sekolah menjadi suatu keharusan.

“Kejadian di Pilkada DKI harus menjadi pembelajaran di semua pihak, dari mana asal usul bangsa Indonesia. Konflik atas nama agama atau ras adalah kebodohan. Kemajemukan menjadi DNA Indonesia,” ujar Kartini menambahkan.

Dalam kesempatan itu, pakar antropologi ini meminta peranan media massa, baik cetak maupun elektronik untuk mengedukasi masyarakat tentang wawasan kebangsaan.

Diskusi merajut kebanggsaan ini untuk diselenggarakan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here