Isi Pledoi Ahok Setebal 634 Halaman

0
514

Liputan1.com-Isi Pledoi Ahok Setebal 634 Halaman

Penasihat hukum terdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama telah mempersiapkan nota pembelaan atau pledoi yang akan dibacakan pada persidangan ke-20 di Auditorium Kementerian Pertanian. Mereka mengaku telah menyiapkan naskah tersebut hingga tidak tidur.

Salah seorang penasihat hukum Basuki atau akrab disapa Ahok itu, I Wayan Sudirta tidak ingin memberikan bocoran mengenai poin pembelaan yang akan dibacakan di depan Majelis Hakim. Dia hanya menyebut jumlah halaman dalam nota pembelaan Ahok.

“Kita membacakan 634 halaman (pledoi) hari ini di luar Pak Basuki. Pak Basuki (membacakan pledoi) sendiri, kita enggak tahu berapa (lembar). Orang yang cerdas biasanya pasti tidak panjang-panjang. Orang yang cerdas pendek bisa mengungkap persoalan. Kami yang tidak terlalu cerdas terpaksa membikin pledoi 634 halaman,” katanya di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (25/4).

Dalam pledoi yang ditulisnya sendiri, Ahok mengutip tulisan penyair dan pendiri Tempo, Goenawan Mohamad serta berkisah tentang pertemuannya dengan sejumlah siswa TK yang diajaknya berbicara tentang film Nemo, sementara pengacara menyampaikan pledoi setebal 634 halaman.

“Izinkan saya mengutip sebuah tulisan Goenawan Mohamad,” kata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kepada Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarto.

Lalu Ahok mengutip bagian akhir dari tulisan Goenawan berjudul ‘Stigma’ itu.

“Stigma itu bermula dari fitnah. Ia tak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang-ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus menerus diulang akan jadi “kebenaran”. Kita mendengarnya di masjid-masjid, di media sosial, di percakapan sehari-hari, sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian,” kutip Ahok.

Ahok melanjutkan kutipan tulisan Goenawan itu:

“Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal: (1) difitnah, (2) dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, (3) diadili dengan hukum yang meragukan.”

Dan kemudian, Ahok mengutip bagian akhir tulisan itu, yang ditulis sesudah kekalahan Ahok di Pilkada 19 April 2017 lalu.

“Ahok kalah, ia bahkan masih bisa dijatuhi hukuman dalam proses pengadilan yang di bawah tekanan aksi massa itu. Jangan-jangan kebenaran juga kalah — di masa yang merayakan “pasca-kebenaran” kini,” katanya.

Usai mengutip tulisan Goenawan Mohammad, dalam nota pembelaannya Ahok berkisah tentang pertemuannya dengan sejumlah anak dari sebuah taman Kanak-kanak (TK) yang datang ke Balai Kota.

Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto sempat memperingatkan.

“Saudara terdakwa harap fokus kepada hal-hal yang relevan dengan perkara,” katanya, yang disanggupi oleh Ahok.

Ahok melanjutkan, bahwa ia ditanya anak-anak itu tentang anak-anak TK itu. “Mereka bertanya, mengapa saya kok mau melawan arus,” katanya.

Kemudian, katanya, Ahok mengajak anak-anak TK itu menonton film animasi Nemo, tentang seekor bapak ikan yang berjuang menyelamatkan anaknya. Bagaimana bapak ikan itu melawan arus, untuk menyelamatkan Nemo, anaknya.

Ahok menegaskan lagi bahwa pidatonya di Kepulauan Seribu dimaksudkan sebagai kritik terhadap politikus yang memperalat agama.

Pledoi 634 halaman

Sidang dilanjutkan dengan pembacaan nota pembelaan pengacara setebal 634 halaman.

Dalam sidang ke 19 sebelumnya, Jaksa menganggap Ahok terbukti melanggar pasal 156 KUHP tentang menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap suatu golongan, namun menganggap Ahok tak terbukti melanggar pasal 156a tentang penistaan agama.

Para penentang Ahok, antara lain kelompok Advokat Cinta Tanah Air, salah satu kelompok yang melaporkan kasus ini, menganggap tuntutan itu terlalu ringan dan menuduh ada rekayasa,

Sebaliknya, salah satu pengacara, Teguh Samudera, menjelang sidang mengatakan bahwa yang merupakan rekayasa justru adalah upaya pemidanaan Ahok.

“Seluruh rangkaian persidangan menunjukkan, tak ada kesengajaan dan niat merendahkan dari pak Basuki dalam pidato di Kepulauan Seribu itu,” kata Teguh Samudera.

“Pidato itu justru penyadaran agar warga tetap bebas menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada. Tidak ada kata-kata yang kasar, tak ada yang meresahkan,” katanya.

Pidato Ahok yang menyebut Surat Al Maidah 51 yang dilaporkan dan kemudian berujung pada pengadilannya terjadi pada 27 September 2016, saat melakukan kunjungan kerja di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Fifi Lety Indra, pengacara Ahok yang lain menyatakan bahwa nyatanya saat itu tak ada warga di Pulau Pramuka itu yang marah atau protes.

“Semuanya baik-baik saja, juga setelah videonya diunggah oleh Pemprov DKI. Hingga sembilan hari kemudian, setelah Buni Yani menggunggahnya di akun dia dengan menambahkan kalimat-kalimatnya sendiri, dan mengedit kata-kata Pak Basuki,” katanya.

Ini merupakan sidang ke 20 kasus penistaan agama, lima hari setelah jaksa menuntut Ahok dengan hukuman penjara satu tahun dengan masa percobaan dua tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here