Sosok Ahok,Prinsip Bekerja dengan Bukti dan Efektivitas Kepemimpinan

0
597

Liputan1.com-Sosok Ahok, prinsip bekerja dengan bukti dan efektifitas kepemimpinan

Calon Gubernur petahana dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menampilkan bukti kinerja dan efektivitas kepemimpinan, sebagai faktor andalan terkuat untuk memenangkan putaran kedua Pilkada DKI, 19 April mendatang.

Berbagai hasil survei menunjukkan, banyak orang yang mengakui bahwa Ahok adalah sosok yang kompeten dan berpengalaman mengelola Jakarta. Banyak warga, bahkan mereka yang secara politik berseberangan dengan Ahok, diam-diam mengakui kinerja Ahok sebagai Gubernur DKI selama ini.

Kinerja Ahok itu bukan cuma terwujud dalam hal-hal fisik. Seperti: sarana dan infrastruktur publik, sungai yang semakin bersih, dan taman-taman kota yang semakin asri.

Tetapi, jika kita melihat perilaku aparat Pemda DKI, memang terlihat ada perubahan yang signifikan.  Dari aparat dan birokrat yang awalnya berperilaku seperti raja-raja kecil, mereka telah ditransformasikan menjadi pelayan masyarakat. Mengubah paradigma pelayanan ini tidak mudah.

Terbukti popularitas dan elektabilitas Ahok pernah sangat tinggi, sebelum namanya “tercemar” akibat tuduhan penistaan agama, yang dimainkan secara masif oleh kubu politik pihak lawan.

Ucapan Ahok di Pulau Seribu pada awalnya berniat menyerang politisi, yang memakai surat Al-Maidah 51 sebagai alat untuk menjegal Ahok. Tetapi ucapan Ahok itu justru diplintir di media sosial dan jadi pemicu kasus hukum, yang sarat emosi dengan nuansa keagamaan yang kental.

Proses pengadilan masih berlangsung sampai sekarang. Tak cuma itu, kasus “penistaan agama” ini juga memicu aksi massa umat Islam yang sangat besar. Ratusan ribu hingga jutaan umat, yang dimobilisasi maupun atas inisiatif sendiri, berdemonstrasi menuntut Ahok segera ditahan. Aksi ini bukan cuma sekali, tetapi berkali-kali.

Bahwa Ahok masih bisa bertahan bebas sampai sejauh ini, menunjukkan daya tarungnya yang luar biasa. Ahok adalah tipe politisi dengan pendekatan lugas, pragmatis, dan blak-blakan. Jika menginginkan sesuatu, Ahok bisa berjuang mati-matian dengan cara-cara yang non-konvensional.

Pendekatan non-konvesional ini, dalam melaksanakan program pembangunan  di DKI Jakarta, bisa menghasilkan terobosan. Tetapi, cara itu juga berpotensi dianggap melanggar peraturan. Hal ini terlihat pada proyek reklamasi pulau di utara Jakarta, yang ditentang banyak kalangan.

Selain itu, problem dan kekurangan Ahok yang utama adalah dalam komunikasi politik kepada media dan konstituennya. Gaya bahasanya yang tanpa basa-basi dan terkesan kasar, menimbulkan sikap antipati dari sebagian kalangan. Gaya komunikasi ini bisa kontra-produktif.

Akibatnya, waktu dan energi Ahok habis untuk mengklarifikasi dan menyelesaikan konflik-konflik akibat ucapannya itu. Padahal waktu dan energi itu sebetulnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih penting dan vital. ***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here