Kali ini, Heboh Kasus Penggandaan Uang Gunakan Daun

0
748
Kali ini, Heboh Kasus Penggandaan Uang Gunakan Daun

Liputan1.com-Kali ini, Heboh Kasus Penggandaan Uang Gunakan Daun

Belum tuntas kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo, kasus serupa kembali terungkap di wilayah Tangerang. Kali ini, seorang pria bernama Afandi Sangaji Idris (ASI) mengaku bisa menggandakan uang dengan sarana menggunakan daun. Hal ini sempat membuat heboh warga sekitar sebelum akhirnya polisi bergerak dan melakukan penangkapan.

“Dia membuka pengajian sejak pertengahan November 2015 lalu,” kata Kasat Reskrim Polresta Tangerang Kabupaten, Kompol Gunarko, Rabu (5/4/2017).

Gunarko mengatakan, kegiatan pengajian memang ada. Dia mengadakan zikir dan pengajian secara rutin setiap hari.

“Pengikutnya awalnya sedikit, hanya 20-30 orang. Ke sini-sini pengikutnya mulai banyak, ratusan orang sampai 130-an orang,” lanjut Gunarko.

(Baca Juga: Modus Penipuan Kanjeng Dimas Taat Pribadi, Mahar untuk Wirid dan Peti Pengganda Uang)

Gunarko mengatakan, ASI adalah warga pendatang yang berasal dari Cikupa, Tangerang. Ia membuka semacam padepokan di rumah yang dia sewa di Perum Cikasungka, Solear, Kabupaten Tangerang.

“Kebanyakan pengikut yang datang ke tempat pengajiannya juga orang luar, tidak ada warga setempat,” imbuhnya.

Lama-lama, padepokan ASI semakin ramai dikunjungi orang luar. Pihak RT setempat juga tidak bisa berbuat apa-apa lantaran sejauh pantauan mereka tidak ada aktivitas yang mencurigakan.

“Ya, RT cuma memantau saja, karena memang kegiatannya kalau terlihat dari luar cuma pengajian dan zikir,” sambungnya.

Sebagian pengikut ada yang mondok di padepokan tersebut. ASI menyediakan makanan untuk para pengikutnya.

“Uang makanan untuk pengikutnya ya berasal dari sumbangan pengikut juga,” ungkapnya.

Sebagian besar pengikut yang datang ke padepokan ASI berniat untuk berobat penyakit yang sudah menahun. Tetapi ada juga yang datang agar bisnisnya sukses dan kaya raya.

“Ada yang motivasinya ingin sembuh dari penyakit, yang mau bikin hotel atau bisnisnya biar lancar, macam-macam. Ada juga yang memang sembuh setelah berobat karena memang dzikirnya khusyuk,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, untuk pengikut yang ingin usahanya sukses harus membawa proposal. Di dalam proposal tersebut disebutkan usaha yang akan dijalani yang nilainya miliaran rupiah kemudian diwajibkan untuk menitipkan uang.

“Kalau setiap masuk setelah uang titipan pertama harus bikin proposal ke dia yang uangnya miliaran untuk bikin rumah, hotel, dan lain-lain,” lanjutnya.

Setiap pengikut yang datang ke padepokan ASI diminta untuk memberikan sumbangan. Namun bukan sumbangan sukarela, ASI mematok harga mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 7 juta.

Bukan masalah pengajian yang dipersoalkan polisi terkait aktivitas ASI ini. Tetapi ASI menggunakan pengajian itu sebagai kedok untuk melakukan penipuan.

“Jadi pengikut yang menyerahkan uang itu nanti diberi kardus yang isinya daun. Pengikut disuruh membuka kardus kalau ketika sudah dia perintahkan, padahal ternyata isinya hanya daun-daun kering,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here