Anggota Reserse Polisi ini Nyambi Tukang Tambal Ban

0
890
Anggota Reserse Polisi ini Nyambi Tukang Tambal Ban

Liputan1.com-Anggota Reserse Polisi ini Nyambi Tukang Tambal Ban

Pemuda asal Bojonegoro, Jawa Timur ini masih setia membantu usaha pamannya Ali Saidin yang membuka bengkel dan tambal ban motor. Bripda Imam Rivai, sudah empat tahun dinas di kepolisian, tetapi di saat lepas dinas dia membantu usaha tambal ban sepeda motor. Sebelum menjadi anggota Bhyangkara dia tinggal di rumah sang paman di kawasan Jalan Pedati, Jakarta Timur.

Sejak lulus sekolah dari SMA di Bojonegoro, putra pasangan petani ini ingin mengubah nasib di Ibukota Jakarta dia menumpang di rumah pamannya. Putra bontot dari dua bersaudara buah perkawinan Supangat dan Surati ini, mengaku pertama ke Jakarta langsung tingal di rumah sang pamannya.

“Sambil menunggu lowongan mendaftar sebagai anggota Polri saya membantu paman di bengkel denan menambal ban,” ucapnya.

Berawal dari pengalamannya membantu paman, hingga akhirnya dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi. Bahkan, di sela-sela membantu pamanya itu dia pernah melamar sebagai petugas keamanan di perusahaan swasta di kawasan Jakarta Timur. Namun tekadnya menjadi anggota Polri tak pernah pupus. “Sejak kecil saya ingin menjadi polisi, bisa membasmi kejahatan,” kenangnya.

Sebab itu, meski sudah jadi menjadi petugas keamanan, Imam terus menempa dirinya dengan olahraga lari setiap pagi. Dia lakukan itu tanpa bimbingan strukur, hanya dipandu beberapa buku olahraga, Imam tekun mempersiapkan fisiknya agar bisa diterima menjadi polisi. Bukan hanya lari atau marathon dia juga mempersiapkan fisiknya dengan latihan berenang.

GAGAL TES

Hari demi hari hingga bulan demi bulan, pemuda itu terus mengasah fisiknya. Saat pendaftaran Sekolah Calon Bintara (Secaba) Polri, Imam mendaftarkan diri. Beberapa tahap seleksi dia mampu lampaui dengan nilai di atas rata-rata, tapi saat mengikuti tes ke III, Imam gagal. Meski demikian dia menerima dengan lapang dada.

Dari kegagalan itu, pemuda ini mengambil hikmahnya. Dia mempelajari dan memperbaiki kelemahannya yang membuatnya kandas di tahap ke tiga tes Secaba.

“Kala itu saya dinyatakan lemah di fisik. Menjadi anggota Polri butuh fisik kuat dan mental prima, selain itu intelektual, sebab itu saya genjot lagi dengan latihan keras termasuk melalap sejumlah buku tentang ilmu kepolisian,” ucapnya.

Berkat ketekunan dan belajar dari kegagalan, Imam kembali mengikuti tes Secaba di Polda Metro Jaya. Kali ini dia optimis dan penuh keyakinan bakal diterima. Setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi, Imam akhinya dinyatakan lolos menjadi siswa Secaba

“Seketika saya sujud syukur. Orang tua juga senang termasuk paman,” katanya.

Dia kemudian mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, Sulawesi Selatan, Makassar pada 2014. Bersama ratusan siswa Secaba lainnya, dia diberangkatkan dari Polda Metro Jaya untuk mengikuti pendidikan kepolisian. Sejumlah rekan-rekannya diantar orangtua dan kerabat keluarganya dengan penuh kebanggaan dan doa, tapi Imam hanya seorang diri.

Orangtuanya tak mampu mengantarkanya dari Mapolda Metro Jaya, begitu pula dengan pamannya. “Bapak ibu saya tak punya biaya untuk ke Jakarta, sedangkan paman sibuk mengurus di bengkelnya, tapi saya puas dan tetap bersyukur, sebab doa mereka selalu menyertai saya,” tukasnya.

Usai mengikuti pendidikan, Imam dinyatakan lulus dan resmi menyandang pangkat Brigadir Dua (Biripda). Dia dan rekan-rekanya satu angkatanya dikembalikan ke jajaran Polda Metro Jaya. Pertama kali bertugas sebagai anggota Polri, Imam ditempatkan di Unit Sabhara Polda Metro Jaya. Setahun kemudian, dia ditarik pimpinannya ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

“Alhamdulillah, cita-cita kecil saya dulu membasami kejahatan terkabul. Saya bangga dan senang ditempatkan di Ditreskrim Polda Metro Jaya. Tapi, saya harus terus belajar dan menempa diri agar dapat benar-benar menjadi anggota pelayan dan pengayom masyarakat,” tandasnya.
Menjadi anggota Reserse memang tak mudah. Seperti yang pernah dilontarkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, menjadi seorang reserse tidaklah mudah dan sering mendapat tekanan besar bukan hanya dari pimpinannya tapi juga masyarakat.

“Saya bisa rasakan tekanan psikologis menjadi anggota reserse. Masyarakat marah kepada pelaku kejahatan ditambah lagi tuntutan pada negara yang direpresentasikan pada Polri sebagai penegak hukum,” kata Tito

Wejangan Kapolri ini membuat Imam bertekad mengembangkan kemampuannya di dunia keresesean. Dia terus belajar, bukan hanya dari membaca sejumlah buku tindak kejahatan dan lain sejenisnya, tapi juga mengasah kemampuan dari para seniornya. Meski demikian di sela-sela kesibukanya, itu pemuda itu tidak pernah lupa kacang akan kulitnya.

Bripda Imam tetap membantu pamanya menambal ban motor di bengkel. Terkadang kalau lepas dinas, Bripda Imam Rivai, tidak segan-segan membantu sang paman buka bengkel sepeda motor. “Dari sini juga saya banyak informasi soal tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor,” ujarnya.

Meski demikian, banyak yang tidak tahu, jika Imam Rivai itu anggota Polri yang membantu pamanya menambal ban. “Kalau Imam sedang nambal ban banyak yang tidak tahu, jika keponakan saya itu anggota Polri,” ucap Ali Saidin, pamannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here