Banser NU Bubarkan Aksi Massa Hizbut Tahrir di Jawa Timur

0
438
Banser NU Bubarkan Aksi Massa Hizbut Tahrir di Jawa Timur

Liputan1.com-Banser NU Bubarkan Aksi Massa Hizbut Tahrir di Jawa Timur

Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser) menghadang dan membubarkan aksi massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di perbatasan Trenggalek-Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (1/4).

Sempat terjadi ketegangan saat seratusan anggota Banser Tulungagung memaksa rombongan HTI dari Trenggalek berhenti di perbatasan daerah itu dan memaksa seluruh peserta kirab mencopot semua atribut HTI maupun panji-panji yang dibawa. Setelah ditengahi aparat Kepolisian dan TNI, massa HTI akhirnya bersedia mengalah dan mencopot segala atribut yang dikenakan, serta membubarkan diri.

“Pengadangan dan pembubaran paksa kami lakukan karena kegiatan mereka dengan membawa misi  khilafah dalam kehidupan bernegara berpotensi memecah-belah umat,” kata Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Tulungagung Syahrul Munir kepada Antara.

Munir mengatakan, aksi pengadangan dilakukan di Desa Notorejo, Kabupaten Tulungagung yang berada persis di perbatasan daerah itu dengan Trenggalek, sekitar pukul 06.30 WIB hingga 07.30 WIB.

Ia mengakui aktivis Ansor dan Banser yang berjumlah 130-an orang sempat melucuti bendera khilafah maupun alat peraga dan atribut lain yang dibawa massa HTI menggunakan empat kendaraan roda empat dan sejumlah sepeda motor dari arah Trenggalek hingga sampai di perbatasan Tulungagung.

“Mereka berniat melakuan estafet dengan membawa misi khilafah mulai dari Ponorogo hingga Banyuwangi yang puncaknya digelar Minggu di Masjid Al-Akbar, Surabaya. Ansor dan Banser tegas menolak kegiatan itu karena sudah bertentangan dengan prinsip dan komitmen NU sebagai garda terdepan menjaga keutuhan NKRI. NKRI harga mati,” katanya.

Ketua HTI Kabupaten Trenggalek dr Fahrul Ulum mengatakan kegiatan yang mereka gelar sebenarnya hanyalah edukasi ketauhidan dengan mengingatkan sejarah ke-Islamaan di zaman Nabi Muhammad SAW.

“Tentang konsep khilafah, HTI sifatnya memberikan tawaran. Logikanya sama seperti tawaran menggunakan listrik, berhemat dalam pemaikaiannya dan sebagainya. Artinya dalam dinamikanya tawaran itu bisa saja diterima atau ditolak, sehingga kami (HTI) mengedepankan dialog,” katanya.

Soal tudingan misi khilafah yang diusung HTI berpotensi memicu perpecahan umat, Fahrul menegaskan mereka selalu menyampaikan bahwa gagasan khilafah dalam sistem bernegara di Indonesia adalah penawaran yang diajukan ormas HTI kepada rakyat Indonesia, bukan sebuah konsep paksaan yang harus dijalankan.

Secara terpisah, Wakapolres Tulungagung Kompol I Dewa Gede Julaiana membenarkan adanya aksi pengadangan konvoi oleh massa Ansor dan Banser Tulungagung di perbatasan Trenggalek-Tulungagung.

“Kami hanya memantau dan memastikan keamanan tetap kondusif,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here