Hari Raya Nyepi dan Tradisi Perang Api

0
566
Hari Raya Nyepi dan Tradisi Perang Api

Liputan1.com-Raya Nyepi dan Tradisi Perang Api

Menjelang perayaan Nyepi, umat Hindu di Kecamatan Cakranegara, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan tradisi perang api, Senin (27/3/2017).

I Gusti Bagus Mayana, salah satu tokoh adat menyebutkan, perang api telah dilakukan secara turun-temurun oleh para pemuda di lingkungan Sweta dan Negara Sakah sejak abad ke 18 silam.

Perang api ini bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat, menjelang pelaksanaan Nyepi yang jatuh pada Selasa (28/3/2017).

“Upacara untuk mengusir roh-roh jahat. Salah satunya dilakukan dengan cara perang api,” kata Gusti.

Perang api ini dilaksanakan seusai pawai ogoh-ogoh. Sejak sore hari, puluhan pemuda telah mempersiapkan daun kelapa kering yang sudah diikat. Nantinya daun kelapa kering tersebut akan digunakan sebagai ‘alat perang’ dalam tradisi perang api.

Perang api dimulai setelah warga Sweta dan Negara Sakah membakar alat pemukul masing-masing. Kedua kubu lalu saling serang dengan menggunakan daun kelapa kering yang sudah terbakar.

Namun meski berperang, tidak pernah ada dendam antara warga Sweta dan Negara Sakah. Gusti mengatakan, perang api dilaksanakan dalam rangka memeriahkan upacara ‘Bhuta Yadnya’ yang dilakukan sebelum pelaksanaan catur brata penyepian dilakukan.

Surya, salah satu peserta perang api mengatakan, setiap tahun menjelang perayaan Nyepi dia selalu ikut serta dalam perang api. Meski terasa sakit dan panas ketika terkena api, namun Surya mengaku tidak pernah ada dendam.

“Nggak ada dendam sama sekali,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here