Dipecat dan Diolok Olok, Ahmad Ishomuddin : Siap Hadapi Resiko Apapun

0
583

Liputan1.com-Dipecat dan Diolok Olok, Ahmad Ishomuddin : Siap Hadapi Resiko Apapun

Rais Syuriah PBNU dan Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI pusat Ahmad Ishomuddin, mengaku siap menghadapi resiko apapun pasca dirinya hadir sebagai saksi ahli dari terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus dugaan penistaan agama.

Ishomuddin memberikan kesaksiannya dalam sidang ke-15 kasus tersebut yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

“Saya menyadari betul dan sudah siap mental menghadapi resiko apa pun,  termasuk mempertaruhkan jabatan saya yang sejak dulu saya tidak pernah memintanya,” kata Ishomuddin lewat akun Facebooknya, Jumat (24/3/2017).

“Yakni baik sebagai Rais Syuriah PBNU (periode 2010-2015 dan 2015-2020) maupun Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2015-2020),  demi turut serta menegakkan keadilan itu,” sambungnya.

Ishomuddin mengungkapkan, alasannya bersedia menerima  permintaan tim kuasa hukum Ahok untuk bersaksi di persidangan, karena Ia tidak ingin seseorang yang tidak bersalah dihukum.

“Dalam hal ini saya berupaya menolong para hakim agar tidak menjatuhkan vonis kepadanya secara tidak adil (zalim), yakni menghukum orang yang tidak bersalah dan membebaskan orang yang salah,” tegas Ishomuddin.

Ditambahkan Ishomuddin, ketersediaannya bersaksi adalah semata-mata untuk ikut terlibat dalam menyelesaikan konflik seadil-adilnya di muka hukum.

“Oleh sebab itu, persengketaan dan perselisihan tersebut segera diselesaikan di pengadilan, agar di negara hukum kita tidak memutuskan hukum sendiri-sendiri,” ujar Ishomuddin.

“Saya hadir, sekali lagi saya nyatakan, di persidangan karena diminta dan karena ingin turut serta terlibat untuk menyelesaikan konflik seadil-adilnya di hadapan dewan hakim yang terhormat,” tandasnya.

Sebelumnya, dalam sidang kasus Ahok yang digelar Selasa (21/3), Ishomuddin menjadi saksi ahli. Dia menjadi saksi bersama akademisi Universitas Indonesia Rahayu Surtiati dan ahli hukum pidana dari Universitas Katolik Parahyangan Djisman Samosir.

Ishomuddin menyatakan bahwa dirinya tidak mewakili PB Nadhlatul Ulama (NU) ataupun Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi tempatnya berkiprah.

“Saya hadir atas nama pribadi. Tidak mewakili PB NU, tidak pula mewakili MUI di mana saya menjabat wakil ketua komisi fatwa,” pungkas Ahmad Ishomuddin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here