Sejarah Hari Raya Imlek

0
636

Liputan1.com-Sejarah Hari Raya Imlek

Perayaan tahun baru Imlek yang dirayakan oleh seluruh warga Tionghoa. Imlek bukan hanya mengenai kumpul keluarga untuk makan bersama dan membagikan angpao saja. Sejarah terciptanya Imlek mengandung makna dan cerita yang lebih dari sekedar makan bersama dan membagi-bagikan angpao.

Imlek atau Festivel Musim Semi di China sudah dirayakan sejak abad ke 20. Hari raya ini dianggap sebagai hari raya yang paling penting bagi kehidupan sosial dan ekonomi di negara tirai bambu tersebut.

Awalnya Imlek dirayakan berdasarkan kalender Bulan-Matahari. Kemudian dengan adanya adaptasi dengan kalender Barat tahun 1912, warga Tionghoa ikut merayakan 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru. Namun mereka tetap menganggap Imlek merupakan perayaan yang terbesar sepanjang tahun.

Kalender China Kuno

Kalender China Kuno digunakan sebagai panduan bagi kehidupan agama, dinasti dan sosial. Kalender ini dikatakan sudah ada sejak abad ke-14 SM ketika Dinasti Shang berkuasa.

Kalender ini merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Parameternya diatur berdasarkan fase bergeraknya bulan dan matahari. Prinsip berlawanan seperti Yin & Yang juga dijadikan sebagai pedoman kalender ini seperti halnya pada zodiak China atau shio. Setiap tahunnya, tahun baru Imlek ditandai dengan karakteristik salah satu dari 12 shio (tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, domba, monyet, ayam, anjing dan babi).

Tahun Baru China Tradisional

Periode tahun baru China dimulai pada pertengahan bulan ke-12 dan berakhir pertengahan bulan pertama dengan mengikuti bulan purnama.

Seperti yang kamu ketahui, ada banyak sekali tradisi yang dilakukan untuk merayakan Imlek, bahkan sebelum hari itu tiba. Tradisi itu pun secara turun-temurun diberikan kepada setiap generasi untuk dilakukan kembali.

Secara tradisional (bagi warga Tionghoa), tahun baru adalah festival atau perayaan yang paling penting. Semua orang merayakan tahun baru, kegiatan bisnis pun dihentikan agar para pelaku bisnis bisa berkumpul di rumah bersama keluarga.

Sebelum tahun baru tiba, warga Tionghoa akan membersihkan rumah untuk mengusir kesialan yang terjadi selama satu tahun. Membersihkan rumah juga berarti menenangkan para dewa yang akan turun dari surga untuk menghampiri manusia.

Pada saat tahun baru, terdapat ritual mempersembahkan makanan dan kertas (pengganti uang) untuk para dewa dan leluhur. Warga Tionghoa membuat gulungan kertas berisikan pesan keberuntungan untuk digantung pada pagar rumah dan menyalakan petasan untuk mengusir roh jahat. Pada saat ini, orang dewasa akan memberikan uang kepada anak-anak.

Selain tradisi-tradisi yang sudah disebutkan itu, masih banyak tradisi yang dilakukan sejak zaman nenek moyang kita. Semuanya dimaksudkan untuk membawa keberuntungan dan umur yang panjang untuk seluruh keluarga.

Dari semua tradisi atau ritual, hal yang paling penting dan wajib dilakukan adalah makan bersama. Pada malam tahun baru, seluruh keluarga besar akan duduk bersama di meja untuk makan makanan tahun baru.

Dalam lima hari pertama tahun baru, tradisi mengajarkan untuk mengkonsumsi mie panjang yang melambangkan umur panjang. Kemudian pada hari ke-15 (hari terakhir perayaan tahun baru), pangsit berbentuk bulan penuh akan dibagikan sebagai bentuk kekeluargaan dan kesempurnaan.

Evolusi Hari Raya Imlek

Kalender Barat kemudian tiba di negara China bersama dengan misionaris Jesuit pada tahun 1582. Kalender ini pun mulai digunakan oleh warga negara China sejak tahun 1912 dan menyatakan bahwa tahun baru jatuh pada setiap tanggal 1 Januari.

Kemudian pada 1949, di bawah kepemerintahan Partai Komunis China, pimpinan Mao Zedong melarang perayaan tahun baru China atau Imlek (tradisional) dan mengikuti kalender Barat karena perjanjiannya dengan pihak Barat. Namun di akhir abad 20, para pemimpin China kembali menerima perayaan tahun baru Imlek.

Pada tahun 1996, pemerintah China menetapkan waktu libur selama satu minggu untuk merayakan tahun baru Imlek yang kini disebut sebagai Festival Musim Semi.

Pada awal abad 21, banyak keluarga Tionghoa yang menghabiskan uang demi merayakan hari raya ini, baik untuk makanan dan tradisi lainnya. Mereka juga menghabiskan waktu untuk kumpul bersama keluarga besar. Walaupun perayaan ini tidak lagi memiliki nilai religius, tetapi warga Tionghoa tetap percaya pada zodiak mereka.

Sayangnya, perubahan mengenai sikap pada perayaan Imlek terjadi pada generasi muda. Pasalnya kini para pemuda pemudi Tionghoa lebih senang menghabiskan waktu untuk tidur, bermain internet, ataupun berkumpul dengan teman saat Imlek. Banyak juga yang tidak menyukai sajian khas Imlek.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here