Isu Polisi Selundupkan Senjata dari Sudan Mencuat

0
541

Liputan1.com-Isu Polisi Selundupkan Senjata dari Sudan Mencuat

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) diguncang isu penyelundupan senjata dari Sudan. Isu ini mencuat setelah pasukan Polri yang tergabung dalam Formed Police Unit (FPU) ditahan otoritas bandara Sudan lantaran ditemukan adanya paket senjata saat hendak kembali ke Tanah Air usai menjalani tugas sebagai pasukan perdamaian di bawah bendera PBB.

Polri pun dengan sekuat tenaga membantah tudingan itu. Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, senjata yang diduga diselundupkan itu bukan milik pasukan Garuda Bhayangkara II Kontingen FPU VIII. Martinus menjelaskan, pasukan tertahan sejak Minggu (15/1) lalu.

“Tanggal 15 Januari pagi berangkat pasukan dari Garuda Camp tempatnya. Di situ barang dimasukkan semua, sudah ada pemeriksaan di sana. Masuklah barang-barang mereka ke dalam dua kontainer. Sebanyak 40 orang mengawal kontainer itu (anggota FPU) sampai di bandara 3 jam berikutnya, 40 orang ini membantu menurunkan barang,” beber Martinus di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, kemarin.

Saat di Bandara Al-Fashir, lanjutnya, sekitar 10 meter dari tumpukan barang milik pasukan Indonesia, ada barang lain yang warnanya berbeda dengan barang milik Indonesia serta tidak ada label Indonesia.

“Sekitar 10 meter dari tumpukan, ada tumpukan lain yang kemudian orang Sudan (polisi Sudan) nanya, ‘Ini Indonesia punya?’ Dijawab ‘bukan’, sampai tiga kali bertanya ya,” sambung Martinus.

Kemudian, ada WN Sudan yang memasukkan barang itu ke pemeriksaan sinar-X. Lalu, petugas melihat ada tumpukan senjata di kontainer itu.

“Tiba-tiba satu orang memanggil temannya dan memasukkan tumpukan itu ke X-ray, ketemulah senjata itu, kemudian ada tuduhan kepada FPU VIII ingin menyelundupkan senjata,” lanjutnya.

“Dipastikan itu bukan berasal dari pasukan Indonesia menurut Komandan Satgas FPU VIII,” tegasnya.

Atas tudingan isu miring ini, Polri mendesak United Nations-African Union Missions in Darfur (UNAMID) untuk melakukan investigasi secara tepat dan sesuai fakta.

“Meminta kepada UNAMID sebagai organisasi yang meminta kesediaan Polri dalam misi UNAMID ini melakukan investigasi secara fakta ya,” kata Martinus.

FPU merupakan bagian dari Unamid. Martinus mengatakan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menginstruksikan untuk segera mengirimkan personel ke Sudan. Nantinya personel Polri yang akan dikirim melihat proses pemeriksaan terhadap pasukan FPU VIII dan membantu kepulangan mereka.

“Pak Tito menyampaikan segera mengirim personel ke sana untuk membantu baik untuk hukum, maupun memastikan bahwa mereka tidak bersalah dan kemudiam kembali,” jelas Martinus.

Polri juga menyayangkan tidak adanya CCTV di Bandara Al-Fashir sehingga cukup sulit untuk membuktikan fakta yang sebenarnya.

“Memang disayangkan bandara itu tidak ada CCTV ya. Memang bukan bandara seperti yang kita visualisasikan, yang kita asumsikan seperti bandara Soekarno-Hatta, tidak,” pungkas Martinus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here