Habib Rizieq dan Munarman Dilaporkan ke Polisi

0
560

Liputan1.com-Habib Rizieq dan Munarman Dilaporkan ke Polisi

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab kembali dilaporkan ke polisi. Selain itu, juru bicara FPI, Munarman juga dilaporkan ke Mapolda Bali.

Habib Rizieq dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama dan penyebaran rasa kebencian berdasarkan SARA. Sedangkan Munarman dilaporkan atas tudingan melakukan adudomba dan mengganggu keharmonisan umat di Pulau Dewata.

Habib Rizieq dilaporkan oleh dr Yanti Khusmiran yang datang ke Bareskrim Polri didampingi sejumlah pengacara. Yanti menyebut pelaporannya atas inisiatif pribadi karena tak terima dengan pernyataan Rizieq yang dianggap menghina agama.

“Dengan pernyataan-pernyataan Beliau yang di YouTube itu beliau menyatakan bahwa Tuhan Yesus itu lahir bidannya siapa? Kami juga terluka. Justru karena itu dengan statement seperti ini akhirnya kerukunan antara umat beragama tercerai-berai dan resah,” tutur Yanti kepada wartawan di gedung Bareskrim Polri di gedung KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (16/1/2017).

Rizieq diadukan Yanti karena pernyataan Rizieq pada tanggal 25 Desember di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Pernyataan Rizieq menurut Yanti dikhawatirkan memecah belah toleransi di masyarakat.

Masyarakat sambung Yanti menurutnya akan resah bila pernyataan yang saling menyinggung tetap dibiarkan. Karena itu Rizieq diadukan dengan menyertakan barang bukti video yang disimpan dalam flashdisk.

“Dengan ini kami percayakan kepada Polri. Polri harus segera mengusut dan menuntaskan kasus yang diduga melakukan tindakan pidana penistaan agama yang dilakukan saudara Rizieq Shihab supaya iklim daripada kerukunan keagamaan di negara kita ini bisa tenang lagi,” imbuhnya.

Dengan laporan polisi nomor: LP/46/I/2017/BARESKRIM, Yanti melaporkan Habib Rizieq atas dugaan tindak pidana penistaan terhadap agama sebagaimana diatur dalam Pasal 156 a KUHP juncto Pasal 28 ayat2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Rizieq juga dilaporkan atas dugaan tindak pidana penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan sesuai dengan Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau menodai lambang negara (ideologi Pancasila) sesuai dengan Pasal 154 a.

Rizieq belum memberikan tanggapan terkait pelaporan di Bareskrim ini. Namun sebelumnya Rizieq pernah menanggapi pelaporan dirinya di Polda Metro Jaya.

“Saya pikir setiap warga negara boleh-boleh saja untuk melaporkan seseorang yang mana saja dianggap melanggar hukum di republik ini. Adapun saya pribadi yang dilaporkan, saya menilainya salah alamat karena kita sekarang sedang bicara soal dogma,” kata Rizieq.

Sementara itu, 20 perwakilan masyarakat Bali dari berbagai elemen melaporkan Munarman ke Mapolda Bali. Para pelapor terdiri dari Sandi Murti, Patriot Garuda Nusantara (PGN), Laskar Bali, dan GP Anshor Bali.

“Mereka berani nggak mencium Merah Putih dan Garuda Pancasila? Saya kira tidak. Inilah, kita mohon diselidiki karena ini momentum menjelang Pilpres 2019 yang sudah dekat sehingga mereka mencoba mengganggu demokrasi yang ada di Indonesia,” kata perwakilan pelapor dari PGN, Pariyadi, di lokasi.

Pinisepuh Murti, Gusti Agung Ngurah Harta, menyatakan laporan ini untuk menunjukkan bahwa tidak ada ruang untuk pihak yang ingin mengadu domba keharmonisan umat di Pulau Dewata. Ia menyatakan pecalang di Bali selalu bekerja dengan prinsip pluralisme.

“Pecalang di Bali pluralis dan fleksibel. Tidak hanya masjid yang dijaga pecalang untuk kekhusyukan ibadah tetap terjaga. Jika ada orang Bali yang mencoba menghasut, biasanya ditegur oleh pecalang dan bendesa adat,” ujar Ngurah di lokasi yang sama.

Di sisi lain, petinggi organisasi pecalang Bali, I Made Mudra, mengingatkan para pecalang untuk tidak tersulut emosi terkait perkataan Munarman. Mudra menekankan kepada para pecalang di Bali untuk menyerahkan pada proses hukum yang kini tengah berjalan.

“Harus disadari rekan pecalang, karena para tokoh telah menyerahkan ke hukum dan ini agar tidak terjadi sesuatu yang anarkis di desa-desa. Kebenaran masih dalam proses hukum yang dilaksanakan Polda Bali,” ucap Mudra.

Laporan terhadap Munarman ini dilengkapi dengan video berjudul ‘FPI Datangi & Tegur Kompas Terkait Framing Berita Anti Syariat Islam’ yang diunggah oleh akun Markaz Syariah di Youtube pada 17 Juni 2016. Munarman menyatakan rumah warga dilempari batu dan dilarang salat Jumat oleh pecalang di menit ke 15 detik 16 dalam video tersebut.

Manggala Agung Pasikian Pecalang Provinsi Bali, I Made Mudra mengatakan, sejak lama pecalang menganggap penduduk Bali yang beragama Islam sebagai saudara. Sehingga tudingan Munarman yang menyatakan rumah warga dilempari batu dan larangan shalat Jumat tidak benar.

“Pecalang melihat masyarakat muslim di Bali seperti saudara. Apalagi yang telah kita sampaikan ke pecalang bertugas menjaga keamanan tidak hanya di masjid saja tapi juga di tempat ibadah lainnya,” kata Made.

Menurut Made, pecalang memiliki tugas pokok yakni menjaga adat dan keamanan desa-desa di Bali. Sementara pengamanan jalannya ibadah apapun agamanya sebagai bentuk menjaga kekhusyukan umat beragama.

“Mengamankan ibadah agar tetap berjalan khusyuk. Wajib hukumnya menjaga keamanan, apalagi wilayah yang daerah wisata internasional. Kalau tidak aman dan tenang, siapa yang mau ke Bali?” Ujar Made.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here