Denpasar Sebagai Orange Economy

0
927

Denpasar Sebagai Orange Economy

Oleh Prof. Ida Bagus Raka Suardana

Orange Economy memiliki banyak istilah, seperti industri budaya, industri kreatif, industri rekreasi, industri hiburan, industri konten, industri yang terproteksi hak cipta, ekonomi budaya dan ekonomi kreatif. Walaupun memiliki banyak istilah namun telah disepakati bahwa kesemuanya merujuk pada satu tujuan, yaitu ide atau gagasan atau kreatifitas. Selama ini kita lebih mengenal istilah industri kreatif dan ekonomi kreatif.

Dari segi pengertian, industri kreatif adalah kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu. Sementara itu, ekonomi kreatif terdiri dari periklanan, arsitektur, seni, kerajinan. desain, fashion, film, musik, seni pertunjukkan, penerbitan, Penelitian dan Pengembangan (R&D), perangkat lunak, mainan dan permainan, televisi dan radio, dan permainan video.

Dalam kurun waktu belakangan ini, industri kreatif dipandang semakin penting dalam mendukung kesejahteraan dalam perekonomian, berbagai pihak berpendapat bahwa “kreativitas manusia adalah sumber daya ekonomi utama” dan bahwa “industri abad kedua puluh satu akan tergantung pada produksi pengetahuan melalui kreativitas dan inovasi.” Di masa lalu, Industri kreatif dipandang sebelah mata karena jarang dipetakan secara rinci, diperkenalkan secara luas, dan sulit mengukur potensinya yang demikian kompleks. Padahal faktanya, industri kreatif telah berhasil: (1) melibatkan lebih dari 144 juta pekerja di dunia; (2) memiliki nilai ekonomi lebih dari 4,29 triliun dolar; (3) memiliki nilai ekspor 649 miliar dolar; (4) berkontribusi 6,1% terhadap perekonomian dunia; (5) setara dengan 4x pembangunan 75 ribu kilometer jalan (Statistik menurut analisis Felipe Buitragodan Ivan Duque, 2015).

Demikian juga perdagangan kreatif, tidak mudah goyah dan dapat memulihkan pertumbuhannya dengan cepat jika terjadi krisis finansial. Industri film besar seperti Hollywood di AS, Bollywood di India, dan Nollywood di Nigeria bersama-sama memproduksi lebih dari 4.000 film per tahun, lebih dari 80 per minggu penjualan film box office mereka mencapai miliaran dollar di seluruh dunia. Begitu pun industri video game dan Itunes yang melaporkan sejak peluncurannya pada tahun 1998, lebih dari 25 miliar lagu telah diunduh pada harga $0.99 per lagu dan lebih dari 50 miliar aplikasi telah diunduh dari App Store.

Begitu besar potensinya hingga jika industri kreatif diandaikan sebagai sebuah negara bernama orange economy di dunia, maka ia akan menjadi Negara terbesar keempat dalam bidang ekonomi dan tenaga kerja, karena telah menjadi bagian yang sangat penting dari perekonomian dan budaya  di dunia. Jika orange economy bisa tumbuh dengan baik, maka tentu akan mampu memperbaiki perekonomian serta mampu menciptakan lapangan kerja, khususnya bagi anak-anak muda, dan tentunya akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berkaitan dengan hal itu, kota Denpasar yang telah memiliki modal, yaitu budaya dan banyak anak muda yang kreatif, tentunya bisa menjadi bagian orange economy yang diperhitungkan. Secara implementasi, kota Denpasar sejak kepemimpinan Rai Mantra dan Jaya negara, juga telah menghadirkan berbagai ruang kreatif dan inovatif melalui berbagai event, seperti Denpasar Festival, Denpasar TIK Festival, Mahabandana Budaya, Petinget Rahina Tumpek Landep, Sanur Village Festival, Revitalisasi Desa Tradisional, dan yang lainnya.

Ciri khas dan dinamis Denpasar sebagai Kota Kreatif selama ini adalah (1) berbasis budaya unggulan; (2) kaya inovasi; (3) sinergi IT dan teknologi digital; (4) dikembangkannya sumber daya terbarukan; (5) dibangunnya multi nilai tambah secara ekonomi, sosial, edukasi, ekologi, dan kultural (Geriya, 2016).

Namun demikian, harus kita akui bahwa orange economy (industri kreatif atau ekonomi kreatif) masih banyak mengalami kendala dalam pengembangannya, beberapa diantaranya seperti: (1) iklim usaha belum cukup kondusif; (2) minimnya akses pembiayaan kepada pelaku sektor ekonomi kreatif, terutama disebabkan belum sesuainya skema pembiayaan dengan karakteristik yang umumnya belum bankable, high risk, cash flow yang fluktuatif, serta aset yang bersifat intangible (tak berwujud); dan (3) Khusus untuk produk kreatif yang berwujud, masih belum tersedianya venue (tempat) yang permanen untuk eksibisi dan menjual produk.

Untuk mengatasi kendala itu, solusi yang bisa dilakukan adalah: (1) Peran yang maksimal stake holders, seperti pemerintah daerah melalu OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang terkait (seperti Disperindag, Dinas Koperasi & UMKM, dan Dinas Kominfo), organisasi pengusaha (seperti KADIN dan HIPMI), industry perhotelan dan yang lainnya; (2) untuk mengatasi masalah pembiayaan, agar memanfaatkan secara maksimal skema kredit ringan dari perbankan seperti KUR (kredit usaha rakyat), serta memanfaatkan permodalan lembaga keuangan yang ada di desa adat, yaitu kredit dari LPD; (3) untuk mengatasi belum adanya tempat yang permanen untuk produk kreatif yang berwujud, pemerintah seyogyanya menyediakan tempat khusus untuk eksibisi dan berjualan yang permanen (tidak insidentil), sehingga bagi wisatawan (khususnya wisatawan domestic dan rombongan siswa) yang datang dan menginap di kota Denpasar, memiliki alternatif untuk tempat berwisata, terutama tempat kunjungan di malam hari antara pukul 19.00-22.00. Jika pemerintah tidak memiliki dana untuk menyediakan tempat itu, maka peran swasta bisa dilibatkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here