Tito Karnavian Gunakan Hak Diskresi Untuk Kasus Ahok

0
759
Tito Karnavian Gunakan Hak Diskresi Untuk Kasus Ahok

Liputan1.com-Tito Karnavian Gunakan Hak Diskresi Untuk Kasus Ahok

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan menggunakan hak diskresinya mengabaikan Surat Telegram Rahasia (STR) Kapolri terdahulu yakni STR Nomor 498 Oktober 2015 tentang penundaan penyidikan kasus jika melibatkan pasangan calon yang akan mendaftar atau sudah ditetapkan sebagai calon kepala daerah dalam pemilihan kepala daerah.

“Sesuai kewenangan diskresi yang ada pada saya, saya memerintahkan Kabareskrim untuk menggulirkan proses penyelidikan. Ini dalam rangka menangkap aspirasi publik yang berkembang,” kata Tito dalam keterangan pers di Istana Negara, Sabtu (5/11) kemarin.

 Sejak video pidato Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Pulau Seribu viral di media sosial, kata Tito, antara tanggal 6 hingga 21 Oktober, Kepolisian sudah menerima 11 laporan. Menindaklanjuti laporan itu, Tito mengaku pihaknya sudah memeriksa 22 orang diantaranya 3 orang pelapor dan sejumlah saksi ahli.

“Terlapor sendiri, saudara Basuki Tjahaja Purnama yang rencananya akan dipanggil kembali Senin (7/11) dengan kesadaran sendiri sudah datang dan sudah kita dengar keterangannya. Kami juga sudah mendengar keterangan 10 orang saksi ahli diantara dari MUI dan dari 7 orang penyidik,” kata Tito.

Menurut Tito, dalam kasus ini polisi melibatkan saksi ahli dari tiga bidang berbeda yakni ahli bahasa, ahli agama khususnya agama islam, dan ahli hukum pidana. Ahli agama dilibatkan terutama terkait penafsiran Surat Al Maidah 51 yang menjadi pokok masalah.

Sedangkan ahli bahasa untuk melihat rangkaian kata-kata yang disampaikan Basuki Tjahaja Purnama apakah mengandung unsur penodaan agama atau tidak. Menurut Tito salah satu saksi ahli yang disampaikan pelapor yakni Habib Rizieq Shihab, sudah didengarkan keterangannya, Kamis (3/11) lalu.

“Sedangkan saksi ahli hukum pidana terutama berkaitan dengan unsur dengan sengaja. Karena dalam pasal 156 (a) tersebut harus ada unsur dengan sengaja, artinya mens rea, ada maksud lain-lain. Cukup banyak ahli-ahli yang sudah kita dengar keterangannya,” kata Tito.

Tito menjanjikan kasus dugaan penodaan agama ini akan selesai proses penyelidikannya dalam waktu dua minggu sesuai perintah Presiden Joko Widodo. Kalau nanti hasil dalam gelar perkara, kata Tito, menyatakan berisi unsur pidana Polri tidak akan ragu menaikkan status kasus ini menjadi penyidikan dan terlapor bisa menjadi tersangka.

“Sebaliknya kalau hasil gelar perkara, yang dilakukan terbuka sesuai perintah Presiden, nanti ternyata didominasi itu bukan tindak pidana, jangan ragu-ragu juga kami akan hentikan kasus ini sesuai dengan profesi dan keahlian kami sebagai penyidik. Dan setelah itu, bisa di-challenge dengan upaya-upaya hukum dan kalau ada bukti baru kasus ini bisa dibuka kembali,” kata Tito menegaskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here