Sejarah Kerajaan Larantuka

0
996
Sejarah Kerajaan Larantuka

Sejarah Kerajaan Larantuka

Kerajaan Larantuka adalah sebuah kerajaan yang berada di Nusa Nipa yang berarti Pulau Naga dalam bahasa lokal, sedangkan dalam bahasa Portugis: Cabo de Flores  yang sekarang disebut sebagai Pulau Flores, dan dalam buku Nāgarakṛtāgama dikatakan sebagai Galiyao  yang disebut sebagai penghasil kayu cendana. Wilayah kekuasaannya mencapai Adonara dengan raja pertama bernama Lorenzo I.

Silsilah Raja Raja Larantuka:
Para raja yang memerintah kerajaan Larantuka dapat dibagi dalam dua tahap yakni sebelum dan sesudah dipermandikan menjadi penganut agama katolik sehubungan dengan kedatangan bangsa Portugis yang mulai berdagang dan menyebarkan agama katolik di Larantuka pada pertengahan abad ke 16.

Silsilah para raja sebelum menjadi katolik berturut – turut adalah : Watowele bersama Patigolo Arakian, Padu Ile, Sira Demo Pagu Molang, Mauboli, Pati Laga, Sira Napan, Sira Pain, Igo dan Enga (dua bersaudara), dan Adowurin. Penggunaan nama tersebut diatas menunjukkan dengan jelas pengaruh Majapahit pada jaman itu.

Selanjutnya para raja yang memerintah setelah dipermandikan yang menggunakan nama kristen (disamping gelar nama asli) dan menggunakan marga Diaz Viera de Godinho ( DVG ) dengan gelar Don, berturut – turut adalah : Don Fransisko Ola Ado Bala DVG, Don Gaspar I DVG , Don Manuel DVG, Don Andre I DVG, Don Lorenzo I DVG, Don Andre II DVG, Don Gaspar II DVG, Don Dominggo DVG, Don Lorenzo II DVG, Don Yohanes Servus DVG, terakhir Don Lorenzo III DVG yang tercatat sebagai raja yang ke – 21. Pada masa pemerintahan raja – raja ini pernah juga terjadi kekosongan, dimana kekuasaan diambil alih oleh wakil raja dan juga trium virat namun dilanjutkan kembali oleh raja – raja keturunan Ile Jadi yakni keturunan DVG.

Masa penjajahan Portugis berakhir dalam pemerintahan raja Don Gaspar II DVG dengan ditandatanganinya traktat Dily pada tahun 1851 dan selanjutnya kerjn Larantuka diserahkan kepada Belanda. Pada masa itu kontrak kekuasaan dengan pihak Belanda semula dilakukan melalui langge verklarijng, namun dalam perjalanannya dipaksakan menjadi korte verklarijng yang praktisnya sangat merugikan pihak kerajaan Larantuka.

Permulaan
Sebelum tahun 1600, pedagang Portugis meninggalkan Solor dan menetap di Larantuka. Para pedagang terlibat dalam konflik dengan Dominikan di Solor, karena mereka lebih tertarik dalam perdagangan daripada kristenisasi.

Pada tahun 1613, Solor diduduki Belanda dan Dominikan pindah ke Larantuka juga. Kemudian Larantuka menjadi stasiun internal untuk perdagangan kayu cendana dari Timor dan menjadi pusat perdagangan Portugis di wilayah Indonesia bagian tenggara. Larantuka bahkan menjadi tempat pengungsian bagi desertir dari Dutch East India Company (VOC).

Ritus
Upacara ritual pengorbanan hewan memiliki posisi yang cukup penting dan mempengaruhi berbagai struktur dan proses sosial pada bermacam lapisan sistem politik Flores Timur.

Kohesi sosial dan legitimasi status sosial melalui ritus memiliki peranan khas dalam berbagai organisasi sosial-politik di Flores Timur (Graham, 1985:141). Selain dalam upacara ritual pembagian kakang, ritus juga tampak pada upacara penerimaan imigran Kroko Pukeng.

Ritus pengorbanan hewan yang pertama kali ditetapkan oleh Raja Sira Demong Pagong Molang ini dilaksanakan di setiap kampung (Lewo) oleh ‘panitia empat’ yang disebut suku raja (suku besar). (Istilah suku berasal dari kata Melayu. Istilah asli Flores Timur untuk menyebut suku adalah Ama atau Wung. Organisasi suku dalam kampung tidak sama tinggi kedudukan dan fungsinya.

Pada prinsipnya, nama-nama suku ‘besar’ itu berkaitan erat dengan fungsi para kepala suku dalam upacara ritual pengorbanan hewan. Selain itu, mereka juga memangku kekuasaan duniawi ataupun yang berkaitan dengan dunia ilahi. Keempat suku itu adalah: Ama Koten, Ama Kelen, Ama Marang, dan Ama Hurint.

Dalam ritus pengorbanan hewan, Ama Koten memegang kepala hewan korban. Dia adalah kepala dari ‘panitia empat’, tuan tanah, dan memegang kekuasaan dalam kampung.

Ama Kelen memegang bagian belakang hewan korban. Dialah yang bertugas mengurus hubungan dengan kampung-kampung lainnya dan mengatur masalah perang ataupun damai.

Ama Marang bertugas membacakan doa, menceritakan sejarah asal usul (tutu rnaring usu-asa) untuk mendapat restu (ike kwaAt) dari kekuatan leluhur. Dialah yang bertugas menjaga tatanan adat dalam kampung. Ama Hurint bertugas membunuh hewan korban, meneliti urat hati hewan korban untuk meramal suatu kejadian.

Ama Hurint dan Ama Marang juga bertugas memberi nasihat atau saran bila terdapat perbedaan pendapat antara Ama Koten dan Ama Kelen, mencari jalan keluar bersama-sama dengan pemuka-pemuka atau tua-tua yang disebut Kelake.

Legenda
Berdasarkan legenda setempat, leluhur raja Larantuka disebut berasal dari perkawinan antara seorang tokoh pemersatu dari kerajaan Wehale Waiwiku dengan seorang tokoh wanita mistik berasal dari gunung Ile Mandiri.

Reinha Rosari
Sekitar tahun 1665, Raja Ola Adobala dibaptis dengan nama Don Fransisco Ola Adobala Diaz Vieira de Godinho. Secara ritual, ia memprakarsai upacara penyerahan tongkat kerajaan berkepala emas kepada patung Tuan Ma (Bunda Maria Reinha Rosari) sebagai lambang bahwa Larantuka sepenuhnya menjadi kota Reinha (Ratu) dan para raja adalah wakil dan abdi Bunda Maria.

Dengan demikian menyiratkan Kerajaan Larantuka sebagai kerajaan Katolik. Pada tanggal 8 September 1886 Raja Don Lorenzo Usineno II DVG, raja ke-10 Larantuka, menobatkan Bunda Maria sebagai Ratu Kerajaan Larantuka sehingga Larantuka sejak saat itu umum disebut “Reinha Rosari” (Ratu Rosari) sumber : wikipedia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here