Makna Lebaran Idul Fitri yang Sesungguhnya Menurut Al Quran

0
3468
Makna Lebaran Idul Fitri yang Sesungguhnya Menurut Al Quran

Makna Lebaran Idul Fitri yang Sesungguhnya Menurut Al Quran

Bagi semua umat muslim di dunia, kedatangan hari raya Idul Fitri atau Lebaran sungguh sangat menggembirakan. Lantunan gema takbir turut memeriahkan datangnya hari kemenagan 1 Syawal ini. Di Indonesia sendiri terdapat tradisi saat lebaran idul fitri, contohnya saja adalah mudik, halal bihalal, baju baru, kue hingga ketupat lebaran.

Namun apakah anda tahu arti makna hikmah Hari Raya Idul Fitri? Biasanya pada saat khotib berceramah dalam menerangkan bahwa Idul Fithri itu maknanya adalah “Kembali kepada Fitrah”, yang dapat diartikan : Kita kembali kepada fitrah kita semula (suci) disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita.

Kata fitri sendiri memiliki arti suci yang bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alayh). Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alayh).

Dengan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Idul Fitri bisa diartikan kembalinya kita kedalam bentuk suci, atau bisa disebut juga keterbatasan dari semua noda dosa sehingga berada dalam kesucian alias Fitrah.

Semua umat muslim yang telah kembali kepada fitrahnya maka dipastikan orang tersebut akan memiliki beberapa sikap yang diantaranya adalah :

  1. Orang tersebut akan tetap beristiqomah memegang ajaran agama tauhid yaitu islam, ia tetap akan berkeyakinan bahwa Allah itu maha Esa dan hanya kepadanya kita memohon.
  2. Dalam kehidupan sehari-hari orang tersebut akan senantiasa melakukan perbuatan baik dan berkata yang benar,walau kaana murron meskipun perkataan itu pahit.
  3. Dia tetap berlaku sebagai abid, yaitu hamba Allah yang selalu taat dan patuh kepada perintah-Nya serta menjauhi semua laranganya sebagai contoh kita harus menghormati kedua orang tua kita baik orang tua kandung maupun mertua, jikalau sudah meninggal berziarahlah ketempat makam mereka untuk mendoaakan agar dilapangkan serta diterangkang dalam kuburannya dan diampuni segala dosa-dosanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here