Dilengkapi Floating Airport, Bandara Ahmad Yani Makin Manjakan Wisatawan

0
22

LIPUTAN1.COM–Dengan mengusung konsep yang lebih modern, Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang siap memanjakan wisatawan. Nantinya, bandara ini akan dilengkapi Terminal Terapung (Floating Airport) pertama di Indonesia. Topping off terminal baru dilakukan Minggu (11/2), dan ditargetkan beroperasi Mei 2018.

Topping off terminal baru Bandara Ahmad Yani Semarang disaksikan langsung Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

“Topping off ini merupakan komitmen kami kepada wisatawan serta masyarakat Jawa Tengah. Kami ingin meningkatkan pelayanan. Dengan mengutamakan kenyamanan tanpa mengenyampingkan aspek keselamatan, keamanan serta lingkungan,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi.

Terminal baru tersebut merupakan solusi terhadap masalah lack of capacity yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Pasalnya, kapasitas terminal lama hanya mampu menampung 800 ribu penumpang per tahun. Sedangkan realisasinya, pada 2017 saja bandara ini sudah melayani 4,4 juta penumpang.

Dengan luas area 58.652 meter persegi, terminal baru yang dibangun hampir sembilan kali lebih besar dibanding terminal lama. Perluasan apron pun dilakukan, hingga menjadi 72.522 meter persegi. Apron tersebut dapat menampung 13 pesawat narrow body atau konfigurasi 10 pesawat narrow body dan 2 pesawat wide body kargo.

“Terminal lama areanya kecil. Hanya seluas 6.708 meter persegi. Dengan kapasitas terminal baru yang dapat menampung hingga 6 juta penumpang per tahun. Potensi pertumbuhan penumpang sebesar 10 persen tiap tahunnya juga dapat diakomodir oleh keberadaan terminal dan infrastruktur baru Bandara Ahmad Yani,” kata Faik.

Mengenai terminal terapung, atau floating airport, pertama di Indonesia, menurut Faik, terminal itu disebut floating airport karena dibangun di atas lahan lunak dan sebagian besar berair. Terminal itu dibangun menggunakan tiang pancang dan metode prefabricated vertical drain (PVD) untuk memadatkan lahan lunak tersebut.

“Kita pakai konsep floating airport, sehingga menjadikan bandara ini sebagai bandara dengan terminal terapung pertama di Indonesia. PVD sendiri merupakan sistem drainase buatan yang dipasang di dalam lapisan tanah lunak,” terang Faik.

Desain terminal baru bandara juga paten. Konsepnya eco-airport. Sehingga, bandara direncanakan, dikembangkan, dan dioperasikan dengan tujuan menciptakan sarana dan pra-sarana yang ramah lingkungan. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodir konteks lahan yang sebagian besar rawa.

Untuk mendukung konsep eco-airport, 24 ribu bibit mangrove ditanam di area bandara. Keberadaan hutan mangrove nantinya dapat dikembangkan
sebagai objek wisata alam. Hutan mangrove akan menghadirkan banyak
keistimewaan, baik dari aspek fisik, ekologi, maupun ekonomi.

“Pendekatan pengelolaan bandara dilakukan dengan pengukuran yang jelas terhadap beberapa komponen yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Sekaligus juga mendukung kepariwisataan. Selain itu kita juga targetkan desain terminal ini mendapatkan Gold Certificate dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Sekarang masih dalam proses untuk mendapatkan Gold Certification Design Recognition dari GBCI,” pungkas Faik.

Pembangunan ini turut membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya happy. Pasalnya akses udara merupakan hal penting dalam mengembangkan pariwisata. Hal ini dikarenakan 75% wisman masuk ke Indonesia melalui udara.

“Hadirnya Bandara Ahmad Yani dengan kapasitas yang lebih besar, akan menjadi peluang yang bagus. Untuk mengembangkan Joglosemar, atau Jogja, Solo, Semarang, yang dikembangkan dengan ikon Borobudur. Apalagi baru saja kemarin kita lantik Badan Otorita Pariwisata Borobudur (BOB). Saya yakin perkembangannya akan semakin pesat,” kata Menpar Arief Yahya. (*)

LEAVE A REPLY