Ini Dia Customer Centric Organization Ala Menpar Arief Yahya

0
48

LIPUTAN1.COM-Awal 2018 ini Menpar Arief Yahya kembali mendrive jajarannya untuk running kencang. Seluruh Eselon I dan II Kementerian Pariwisata dikumpulkan di War Room lantai 16 Gedung Sapta Pesona, Selasa (9/1). Secara detail, Menpar Arief Yahya menjelaskan kembali struktur organisasi terbaru di Kemenpar.

Spiritnya visi mendatangkan 20 juta wisman di tahun 2019. Key success factornya evolusi transformasi organisasi. Customer-Centric Organization pun menjadi acuan ke depannya. “Mustahil dengan struktur organisasi yang ada saat ini kita bisa mewujudkan visi 2019,” kata Menpar Arief Yahya, Rabu (10/1).

Alasannya pun dipaparkan dengan sangat jelas. Sangat detail. Yang pertama, struktur organisasi di Kemenpar masih menggunakan “dimensi fungsi” secara dominan atau functional structure. Belum menggunakan “dimensi customer” sebagai primary dimention.

“Evolusi sebuah organisasi umumnya memang seperti itu. Awalnya fungsi secara dominan, kemudian bertransformasi menjadi dimensi customer yang dominan. Jadi evolusi transformasi organisasi menjadi customer-centric organization kita percepat. Singkatnya evolusi yang dipercepat,” ujar Arief Yahya.

Lantas kenapa harus ada perombakan struktur? Kenapa juga semuanya harus dirombak? Dibuat baru? “Karena pada hakikatnya Kemenpar adalah kementerian pemasaran. Tugasnya jelas memasarkan destinasi wisata untuk mendatangkan 20 juta wisman, bukan sekedar menjalankan aktivitas rutin kepemerintahan,” terang Menteri yang ahli marketing tersebut.

Di tangan Arief Yahya, Kemenpar langsung diarahkan untuk bertransformasi menjadi layaknya perusahaan. Perusahaan yang punya target tahunan. Perusahaan yang punya omset. Jumlah devisa wisman yang dihasilkan tiap tahun itulah yang menjadi omset Kemenpar.

“Bedanya, kalau di perusahaan, omset masuk ke kantong pemegang saham. Sementara kalau di Kemenpar omset dikembalikan ke masyarakat demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” ujar Arief Yahya.
Kemenpar pun langsung dikelola dengan pendekatan strategi korporasi (corporate strategy). Dengan pendekatan itu, Menpar yakin bisa menciptakan entrepreneurial government di tubuh Kemenpar. “Ketika strateginya dirombak, maka struktur organisasinya juga harus dirombak. Ketika strateginya mengarah ke customer-centric strategy, maka struktur organisasinya juga harus mengarah ke customer-centric structure, tak bisa lagi menggunakan bureaucratic structure,” katanya.

Perubahan struktur organisasi, kata Arief Yahya, akan berdampak pada perubahan aktivitas dan proses kerja. Aktivitas dan proses kerja yang lebih baik. Dan dalam jangka panjang semua perubahan itu berdampak pada perubahan budaya kerja. “Kalau kita tidak berubah saya pastikan target 20 juta wisman tak akan tercapai. Itu artinya kita tak survive. Di tengah target yang begitu menantang hanya mereka yang “galau” atau mau berubah akan bisa survive. Jadi, hanya yang “galau” yang akan bertahan. Persis seperti yang dikatakan Andy Grove pendiri Intel: Only Paranoid Survive,” pungkas Menpar Arief Yahya. (*)

LEAVE A REPLY