Restoran Suguhkan Makanan Berbahan Serangga

0
75
Istimewa

LIPUTAN1.COM, THAILAND-Restoran yang sedang naik daun di Bangkok, menyuguhkan menu makanan berbahan serangga, seperti salad semangka yang ditaburi cacing bambu, nachos dengan salsa tomat ceri bercampur ulat sutera, hingga pasta yang terbuat dari kriket tanah.

Dengan kandungan protein yang tinggi, sudah lama serangga menjadi makanan favorit di kalangan petani Thailand. Tapi serangga juga sering membawa citra negatif lantaran dianggap sebagai makanan orang miskin.

Kini, serangga-serangga itu hinggap ke dalam menu restoran kelas atas di Bangkok lantaran makin maraknya kreasi kuliner.

Ratta Bussakornnun (27), seorang pekerja di industri kosmetik, mengaku awalnya skeptis saat ia baru-baru ini menyambangi Insects in the Backyard, yang disebut-sebut sebagai restoran pertama di Bangkok yang menawarkan menu fine-dining berbahan serangga.

Banyak orang kaya Thailand yang menganggap serangga adalah sesuatu yang kotor. Pada akhirnya, Ratta sukses melahap serangga-serangga itu.

“Saya baru saja makan kerang kampak (scallop) yang di atasnya terdapat cacing bambu dan fillet ikan dengan saus telur semut. Rasanya enak,” katanya berseri-seri, dengan latar alunan lagu jazz lembut yang diputar di restoran itu dengan nuansa remang-remang.

“Makanannya disajikan dengan baik,” tambahnya. “Ini memberi kesan yang sempurna.”

Restoran ini terletak di Chang Chui, sebuah distrik di barat Bangkok yang penuh dengan toko kaset vinyl dan perancang busana lokal.

Regan Suzuki Pairojmahakij sang pendiri resoran, mengatakan jika serangga lebih dari sekadar tren gastronomi, mereka adalah obat mujarab potensial bagi dunia kuliner yang semakin ramai dengan daging.

Ia yang berkebangsaan Kanada itu, dulunya terbiasa bekerja di sektor LSM dengan masyarakat pedesaan terpencil yang banyak di antaranya memasukkan serangga ke dalam masakan mereka.

“Saya telah bekerja di bidang perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam selama beberapa tahun, dan sebagian besar merupakan upaya mencari bentuk protein, makanan, dan rantai pasokan yang berkelanjutan,” katanya seperti dilansir AFP.

Dengan populasi penduduk dunia yang diperkirakan mencapai 9,8 miliar pada tahun 2050, banyak ahli sangat memperhatikan bagaimana dunia akan memberi makan dirinya sendiri dan juga kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh begitu banyak daging yang dikonsumsi.

Serangga, katanya, hanya memerlukan sedikit biaya dan energi untuk pengelolaannya, dibandingkan makanan pokok lain seperti ayam, daging babi, dan daging sapi.

Serangga juga bukan hal baru bagi banyak kelas pedesaan di Thailand.

Konsumsi serangga sangat populer di daerah pedesaan utara, terutama karena iklim yang rawan kekeringan.

Bagi orang-orang di bagian tengah negara yang subur sepanjang tahun, serangga dimakan lebih banyak sebagai camilan, juga sering digoreng dan disajikan dengan bumbu atau saus pedas.

Namun, membujuk kelas menengah atau orang kaya di Bangkok, sebuah kota dengan kekayaan yang sangat tidak proporsional dibandingkan dengan negara lainnya, masih merupakan tantangan tersendiri.

LEAVE A REPLY